1. Fungsi sarana bibliografis, tujuan katalog di perpustakaan
Bibliography atau references sering
disebut dalam Bahasa Indonesia dengan istilah kepustakaan (Basuki, 2025:1.26). kepustakaan dalam hal ini berarti dafat buku yang biasanya digunakan
untuk Menyusun suatu karya tulis untuk memberikan petunjuk kepada pembaca
selanjutnya untuk menelusur subjek yang bersangkutan dengan menggunakan daftar
buku atau dapat pula pembaca membaca buku yang terdaftar bia ingin memperdalam
subjek yang dibahas.
A.
FUNGSI
SARANA BIBLIOGRAFIS
Menurut Rufaidah (1988), sarana bibliografi adalah
sebagai alat penelusuran informasi yang sangat penting. Alat penelurusan
informasi tersebut diantaranya;
1.
Alat Penelusuran dan Temu
Kembali Informasi
Fungsi
paling mendasar dari sarana bibliografis (seperti katalog, indeks, abstrak, dan
bibliografi itu sendiri) adalah untuk memfasilitasi penelusuran informasi.
Tanpa sarana ini, akan sulit bagi pengguna perpustakaan atau peneliti untuk
menemukan sumber informasi yang mereka butuhkan dari koleksi yang luas.
CONTOH KONKRITNYA:
Katalog sebagai daftar terperinci mengenai item yang
dimiliki perpustakaan, seperti buku, DVD, dan sumber daya elektronik, yang
dapat berupa katalog kartu, tercetak, atau online (OPAC).
2. Mengetahui
Adanya Suatu Pustaka
Fungsinya untuk
menunjukkan adanya suatu buku atau sejumlah pustaka yang pernah diterbitkan.
Ini penting untuk melacak riwayat publikasi dan ketersediaan informasi.
CONTOH KONKRITNYA:
filsafat tidak saja membahas tentang
politik dan pemerintahan, tetapi juga membahas tentang Pendidikan. Seperti karya
Dr. Ahmad Muhibbin, M.Si yang berjudul Filsafat Pendidikan, terbitan Muhammadiyah
University Press; ISBN, 6023614280.
3. Sumber
Bacaan Tambahan dan Kredibilitas
Berfungsi sebagai
sumber rujukan yang dikurasi, memungkinkan pembaca untuk mendalami topik
tertentu lebih lanjut. Dalam karya ilmiah, daftar pustaka atau bibliografi juga
menjadi bukti kredibilitas dari tulisan tersebut dengan mencantumkan
sumber-sumber yang digunakan.
CONTOH KONKRITNYA:
pembuatan tugas ini tidak akan dinilai ilmiah/kredibel tanpa mencantumkan
rujukan sumber referensi kutipan.
4. Menghindari
Duplikasi Penelitian
Bagi para
peneliti, bibliografi berfungsi untuk mengetahui status penelitian yang akan
dilakukan. Hal ini membantu menghindari duplikasi penelitian yang sudah ada
sebelumnya.
CONTOH KONKRITNYA:
buku karya Suharsimi Arikunto pada tahun 2017 yang berjudul “Penelitian
Tindakan Kelas”. Jakarta: PT Bumi Aksara. Bisa menjadi referensi bagi
peneliti lain untuk tidak melakukan penelitian dengan mode yang sama sehingga
tak dianggap duplicator.
5.
Membantu Pemakai Menentukan Lokasi
Berfungsi membantu
pemakai dalam menentukan lokasi keberadaan sebuah bahan pustaka atau mengenali
sebuah buku yang diminati (Sulistyo-Basuki, 1991).
CONTOH KONKRITNYA:
buku modul terbitan Universitas Terbuka “pengantar ilmu perpustakaan” karya
Sulistyo Basuki yang dicetak di wilayah Tangerang Selatan.
6.
Identifikasi dan Pengenalan Pustaka
Sedangkan, menurut Saleh
(2009), fungsi bibliografi mencakup pengenalan dan memperjelas sumber pustaka.
Sarana bibliografis memberikan gambaran singkat mengenai aspek fisik dan isi
buku atau bahan pustaka lainnya, seperti: Nama pengarang, Judul, Edisi dan
cetakan, Penerbit dan tahun terbit, Jumlah halaman dan informasi standar
seperti ISBN.
CONTOH KONKRITNYA:
modul karangan Prof. Dr. Sulistyo Basuki dengan judul “pengantar ilmu
perpustakaan” edisi ke 1 cetakan ke 8, penerbit Universitas Terbuka pada tahun
2025 di wilayah Tangerang Selatan, dengan jumlah halaman 644 halaman berstandar
ISBN 978-623-312-690-8.
B.
TUJUAN
KATALOG PERPUSTAKAAN
Katalog
berasal dari bahasa Belanda catalog, serta dalam Bahasa Inggris disebut catalogue
dengan istilah tersebut berasal dari frase Yunani katalogos, kata berarrti
sarana atau meurut, sedangkan logos berarti kata, susunan, alasan dan
nalar. Dengan demikian katalog bisa
dimaknai sebuah karya dengan isinya disusun menurut cara yang masuk akal,
menurut sebuah himpunan rencana, atau hanya berdasarkan kata demi kata (Basuki, 2025: 5.5).
Dengan
berkembangnya teknologi informasi, berbagai perpustakaan membentuk pangkalan
data sebagai Kumpulan data yang tertata, dapat diakses dan dapat dicari melalui
berbagai pendekatan. Pada perpustakaan, katalog menyimpan data yang berkaitan
dengan buku, seperti Nama pengarang, Judul, Edisi dan cetakan, Penerbit dan
tahun terbit, serta Jumlah halaman dan informasi standar seperti ISBN. Perpustakaan
membeli buku-buku untuk penggunanya dan
katalog perpustakaan mencatat data mengenai buku itu sehingga pembaca
dapat menemukannya dengan cepat. Adapun tujuan-tujuan dibentuknya katalog
perpustakaan (seperti terdapat dalam Basuki, 2025:5.9) adalah sebagai
berikut;
1.
Memungkinkan seseorang menemukan sebuah
buku yang diketahui, seperi pengarang, judul atau subjeknya. Pada tujuan ini
menekankan bahwa katalog perpustakaan bertindak selaku daftar temuan bagi buku
tertentu. Ini memerlukan penyediaan data bagi masing-masing buku, memungkinkan
ancangan berdasarkan pengarang, judul dan subjek.
CONTOH KONKRITNYA: Ketika mahasiswa Univ.Terbuka mencari buku referensi
tentang ilmu perpustakaan, maka yang dicari Adalah karya Prof. Dr. Sulistyo
Basuki dengan judul “pengantar ilmu perpustakaan” yang dalam subjeknya menampilkan
topik serupa.
2.
Menunjukkan buku yang dimiliki
perpustakaan, seperti oleh pengarang tertentu, berdasarkan subjek tertentu atau
dalam jenis literatur tertentu. Pada tujuan ini menekankan bahwa katalog
perpustakaan harus bertindak sebagai daftar temuan bagi sekelompok dokumen. Ini
memerlukan penyediaan entri seragam bagi setiap kelompok.
CONTOH KONKRITNYA: Ketika penghobi novel fiksi “Si Penghuni
Mars” mencari sumber bacaan, akan mencari karangan Andrew Taylor Weir, dengan
subjek yang mendeskripsikan Mark Watney sebagai orang pertama yang mendarat dan
hidup di Mars karna ditinggal oleh rekan-rekannya dan berusaha bertahan hidup dengan
menanam kentang.
3.
Membantu dalam pemilihan buku,
berdasarkan edisinya dan berdasarkan karakterkannya (sastra ataukah
berdaasarkan topik). Pada tujuan berkaitan dengan deskripsi buku dalam katalog maka
pemakai dapat membedakan berbagai edisi dari buku tertentu dan memungkinkan
pemilihan buku dengan menyediakan ciri khusus.
CONTOH KONKRITNYA: Buku karangan Prof. Dr. Sulistyo Basuki dengan
judul “pengantar ilmu perpustakaan” edisi ke 1, sebagai cetakan pertama
berarti kontentnya Adalah versi asli yang diterbitkan, sedangkan edisi kedua
baru diterbitkan ketika penulis
membuat perubahan yang signifikan, seperti merevisi, memperbaiki, atau
menambahkan informasi baru pada buku aslinya. Dan edisi khusus, seperti
"Edisi Klub Buku" yang diproduksi khusus untuk organisasi
tertentu.
2.
Literasi
informasi dan tujuan literasi informasi, serta contoh kongkret.
A.
LITERASI
INFORMASI
Literasi informasi
berasal dari Bahasa inggris information literacy, pertama kali dipopulerkan
oleh Paul Zurkowski dalam laporannya ke US National commission on libraries
and information science pada awal 1970-an. Literasi informasi memiliki
Batasan dalam merangkul pengetahuan seseorang mengenai perhatian dan kebutuhan
informasinya, serta serta kemampuan untuk mengidentifikasi, melokalisasi, evaluasi
serta secara efektif menciptakan, menggunakan dan mengkomunikasikan informasi
guna mengatasi itu atau masalah yang dihadapinya (dalam Basuki, 2025: 7.48-49).
Sedangkan Doyle
(dalam Basuki, 2025: 7.49) mendefinisikan orang literasi infomasi sebagai
orang yang mengenali kebutuhan informasi, mengakui bahwa informasi yang akurat dan
lengkap merupakan dasar pengambilan
keputusan yang cerdas, mengidentifikasi sumber informasi potensial,
mengembangkan strategi penelusuran yang berhasil, mengakses sumber informasi,
termasuk pangkalan berbasis computer dan teknologi lainnya, evaluasi informasi,
mengorganisasi informasi untuk aplikasi praktis, mengintegrasikan informasi bar
uke batang tubuh pengetahuan yang sudah ada, menggunakan informasi dalam
pemecahan masalah serta pemikiran kritis.
Berdasarkan
pada definisi di atas dapat dipahami bahwa literasi informasi berawwal dari Amerika
Serikat yang dikemukakan awal oleh Paul Zurkowski sebagai bagian dari starategi
perang pada tahun 1970-an. Yang selanjutnya melahirkan definisi-definisi baru
dalam banyak bentuk dan ragammnya.
Adapun menurut
Basuki (2018) literasi informasi merupakan kemampuan seseorang dalam membangun
interaksi secara tepat, sehingga mendapatkan informasi sesuai dengan keinginan
dan kebutuhan. Dimana informasi yang didapatkan dapat dijadikan sebagai
evaluasi dan untuk membantu pembelajaran.
Seperti juga
ditambahkan oleh Tri Septiyantono (2014) yang mana juga dapat digunakan untuk
mengetahui kapan dan mengapa informasi tersebut dibutuhkan dan digunakan.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa literasi informasi Adalah interaksi seseorang secara tepat dengan pihak lain atau kelompok lain sesuai keinginan dan kebutuhannya.
B.
TUJUAN
LITERASI INFORMASI
Tujuan literasi
informasi menanamkan kebiasaan berlajar sepanjang hayat dalam wujud
mengidentifikasi kebutuhan informasi serta secara efisien menelusur dan
menggunakan sumber informasi elektronik, cetak, lisan asli, serta sumber
informasi lainnya guna memenuhi kebutuhan informasi untuk memperkuat
kepentingan sosio-ekonomi pribadi, komunitas dan nasional (dalam Basuki, 2025: 7.50).
Sementara
itu, Suyono (dalam Gogahu & Prasetyo) menekankan tujuan literasi
informasi Adalah untuk meningkatkan pemahaman dan penguasaan individu terhadap
keterampilan berpikir kritis, serta menggunakan informasi secara efektif.
Dengan
demikian, dapat dipahami bahwa tujuan utama literasi informasi adalah untuk
mengembangkan pembelajar seumur hidup (lifelong learners) yang mandiri,
kritis, dan mampu mengendalikan pembelajaran mereka sendiri dengan menguasai
konten dan memperluas investigasi mereka.
DAFTAR PUSTAKA
Basuki, Sulistyo.1991. “Pengantar
Ilmu Perpustakaan”. Jakarta: PT Gramedia.
Sulistyo, Basuki. 2025. “Pengantar
ilmu perpustakaan”. Tangerang
Selatan. Univ. Terbuka
Septiyantono, Tri. 2014. “Buku
Saku Literasi Informasi”. Tanggerang: Reka Cipta.
Gogahu, D. G. S., & Prasetyo,
T. (2020). Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis E-Bookstory untuk
Meningkatkan Literasi Membaca Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Basicedu, 4(4),
1004–1015.
Rufaidah,VW.,1988. “Peranan
Bibliografi Nasional Indonesia (BNI) dalam Pengawasan Bibliografi di Era
Teknologi Informasi”. Jurnal Pustakawan Indonesia Vol. No.7.
Sulistyo-Basuki. 2018. “Dari Bibliometrika Hingga Informetrika”. Jurnal Media. Pustakawan: Media Komunikasi Antar Pustakawan. Volume 23
Tidak ada komentar:
Posting Komentar