Selasa, 17 Februari 2026

Fungsi sarana bibliografis, tujuan katalog di perpustakaan

 1.     Fungsi sarana bibliografis, tujuan katalog di perpustakaan

Bibliography atau references sering disebut dalam Bahasa Indonesia dengan istilah kepustakaan (Basuki, 2025:1.26). kepustakaan dalam hal ini berarti dafat buku yang biasanya digunakan untuk Menyusun suatu karya tulis untuk memberikan petunjuk kepada pembaca selanjutnya untuk menelusur subjek yang bersangkutan dengan menggunakan daftar buku atau dapat pula pembaca membaca buku yang terdaftar bia ingin memperdalam subjek yang dibahas.

A.    FUNGSI SARANA BIBLIOGRAFIS

Menurut  Rufaidah (1988), sarana bibliografi adalah sebagai alat penelusuran informasi yang sangat penting. Alat penelurusan informasi tersebut diantaranya;

1.      Alat Penelusuran dan Temu Kembali Informasi 

Fungsi paling mendasar dari sarana bibliografis (seperti katalog, indeks, abstrak, dan bibliografi itu sendiri) adalah untuk memfasilitasi penelusuran informasi. Tanpa sarana ini, akan sulit bagi pengguna perpustakaan atau peneliti untuk menemukan sumber informasi yang mereka butuhkan dari koleksi yang luas. 

CONTOH KONKRITNYA: Katalog sebagai daftar terperinci mengenai item yang dimiliki perpustakaan, seperti buku, DVD, dan sumber daya elektronik, yang dapat berupa katalog kartu, tercetak, atau online (OPAC).

2.     Mengetahui Adanya Suatu Pustaka

Fungsinya untuk menunjukkan adanya suatu buku atau sejumlah pustaka yang pernah diterbitkan. Ini penting untuk melacak riwayat publikasi dan ketersediaan informasi. 

CONTOH KONKRITNYA:  filsafat tidak saja membahas tentang politik dan pemerintahan, tetapi juga membahas tentang Pendidikan. Seperti karya Dr. Ahmad Muhibbin, M.Si yang berjudul Filsafat Pendidikan, terbitan Muhammadiyah University Press; ISBN, 6023614280.

3.     Sumber Bacaan Tambahan dan Kredibilitas

Berfungsi sebagai sumber rujukan yang dikurasi, memungkinkan pembaca untuk mendalami topik tertentu lebih lanjut. Dalam karya ilmiah, daftar pustaka atau bibliografi juga menjadi bukti kredibilitas dari tulisan tersebut dengan mencantumkan sumber-sumber yang digunakan. 

CONTOH KONKRITNYA: pembuatan tugas ini tidak akan dinilai ilmiah/kredibel tanpa mencantumkan rujukan sumber referensi kutipan.

4.     Menghindari Duplikasi Penelitian

Bagi para peneliti, bibliografi berfungsi untuk mengetahui status penelitian yang akan dilakukan. Hal ini membantu menghindari duplikasi penelitian yang sudah ada sebelumnya.

CONTOH KONKRITNYA: buku karya Suharsimi Arikunto pada tahun 2017 yang berjudul “Penelitian Tindakan Kelas”. Jakarta: PT Bumi Aksara. Bisa menjadi referensi bagi peneliti lain untuk tidak melakukan penelitian dengan mode yang sama sehingga tak dianggap duplicator. 

5.     Membantu Pemakai Menentukan Lokasi 

Berfungsi membantu pemakai dalam menentukan lokasi keberadaan sebuah bahan pustaka atau mengenali sebuah buku yang diminati (Sulistyo-Basuki, 1991).

CONTOH KONKRITNYA: buku modul terbitan Universitas Terbuka “pengantar ilmu perpustakaan” karya Sulistyo Basuki yang dicetak di wilayah Tangerang Selatan.

6.     Identifikasi dan Pengenalan Pustaka

Sedangkan, menurut Saleh (2009), fungsi bibliografi mencakup pengenalan dan memperjelas sumber pustaka. Sarana bibliografis memberikan gambaran singkat mengenai aspek fisik dan isi buku atau bahan pustaka lainnya, seperti: Nama pengarang, Judul, Edisi dan cetakan, Penerbit dan tahun terbit, Jumlah halaman dan informasi standar seperti ISBN.

CONTOH KONKRITNYA: modul karangan Prof. Dr. Sulistyo Basuki dengan judul “pengantar ilmu perpustakaan” edisi ke 1 cetakan ke 8, penerbit Universitas Terbuka pada tahun 2025 di wilayah Tangerang Selatan, dengan jumlah halaman 644 halaman berstandar ISBN 978-623-312-690-8.

 

B.    TUJUAN KATALOG PERPUSTAKAAN

Katalog berasal dari bahasa Belanda catalog, serta dalam Bahasa Inggris disebut catalogue dengan istilah tersebut berasal dari frase Yunani katalogos, kata berarrti sarana atau meurut, sedangkan logos berarti kata, susunan, alasan dan nalar.  Dengan demikian katalog bisa dimaknai sebuah karya dengan isinya disusun menurut cara yang masuk akal, menurut sebuah himpunan rencana, atau hanya berdasarkan kata demi kata (Basuki, 2025: 5.5).

Dengan berkembangnya teknologi informasi, berbagai perpustakaan membentuk pangkalan data sebagai Kumpulan data yang tertata, dapat diakses dan dapat dicari melalui berbagai pendekatan. Pada perpustakaan, katalog menyimpan data yang berkaitan dengan buku, seperti Nama pengarang, Judul, Edisi dan cetakan, Penerbit dan tahun terbit, serta Jumlah halaman dan informasi standar seperti ISBN. Perpustakaan membeli buku-buku untuk penggunanya dan  katalog perpustakaan mencatat data mengenai buku itu sehingga pembaca dapat menemukannya dengan cepat. Adapun tujuan-tujuan dibentuknya katalog perpustakaan (seperti terdapat dalam Basuki, 2025:5.9) adalah sebagai berikut;

1.     Memungkinkan seseorang menemukan sebuah buku yang diketahui, seperi pengarang, judul atau subjeknya. Pada tujuan ini menekankan bahwa katalog perpustakaan bertindak selaku daftar temuan bagi buku tertentu. Ini memerlukan penyediaan data bagi masing-masing buku, memungkinkan ancangan berdasarkan pengarang, judul dan subjek.

CONTOH KONKRITNYA:  Ketika mahasiswa Univ.Terbuka mencari buku referensi tentang ilmu perpustakaan, maka yang dicari Adalah karya Prof. Dr. Sulistyo Basuki dengan judul “pengantar ilmu perpustakaan” yang dalam subjeknya menampilkan topik serupa.

2.     Menunjukkan buku yang dimiliki perpustakaan, seperti oleh pengarang tertentu, berdasarkan subjek tertentu atau dalam jenis literatur tertentu. Pada tujuan ini menekankan bahwa katalog perpustakaan harus bertindak sebagai daftar temuan bagi sekelompok dokumen. Ini memerlukan penyediaan entri seragam bagi setiap kelompok.

CONTOH KONKRITNYA:  Ketika penghobi novel fiksi “Si Penghuni Mars” mencari sumber bacaan, akan mencari karangan Andrew Taylor Weir, dengan subjek yang mendeskripsikan Mark Watney sebagai orang pertama yang mendarat dan hidup di Mars karna ditinggal oleh rekan-rekannya dan berusaha bertahan hidup dengan menanam kentang.

3.     Membantu dalam pemilihan buku, berdasarkan edisinya dan berdasarkan karakterkannya (sastra ataukah berdaasarkan topik). Pada tujuan berkaitan dengan deskripsi buku dalam katalog maka pemakai dapat membedakan berbagai edisi dari buku tertentu dan memungkinkan pemilihan buku dengan menyediakan ciri khusus.

CONTOH KONKRITNYA:  Buku karangan Prof. Dr. Sulistyo Basuki dengan judul “pengantar ilmu perpustakaan” edisi ke 1, sebagai cetakan pertama berarti kontentnya Adalah versi asli yang diterbitkan, sedangkan edisi kedua baru diterbitkan ketika penulis membuat perubahan yang signifikan, seperti merevisi, memperbaiki, atau menambahkan informasi baru pada buku aslinya. Dan edisi khusus, seperti "Edisi Klub Buku" yang diproduksi khusus untuk organisasi tertentu. 

 

2.     Literasi informasi dan tujuan literasi informasi, serta contoh kongkret.

A.    LITERASI INFORMASI

Literasi informasi berasal dari Bahasa inggris information literacy, pertama kali dipopulerkan oleh Paul Zurkowski dalam laporannya ke US National commission on libraries and information science pada awal 1970-an. Literasi informasi memiliki Batasan dalam merangkul pengetahuan seseorang mengenai perhatian dan kebutuhan informasinya, serta serta kemampuan untuk mengidentifikasi, melokalisasi, evaluasi serta secara efektif menciptakan, menggunakan dan mengkomunikasikan informasi guna mengatasi itu atau masalah yang dihadapinya (dalam Basuki, 2025: 7.48-49).

Sedangkan Doyle (dalam Basuki, 2025: 7.49) mendefinisikan orang literasi infomasi sebagai orang yang mengenali kebutuhan informasi, mengakui bahwa informasi yang akurat dan lengkap merupakan dasar pengambilan  keputusan yang cerdas, mengidentifikasi sumber informasi potensial, mengembangkan strategi penelusuran yang berhasil, mengakses sumber informasi, termasuk pangkalan berbasis computer dan teknologi lainnya, evaluasi informasi, mengorganisasi informasi untuk aplikasi praktis, mengintegrasikan informasi bar uke batang tubuh pengetahuan yang sudah ada, menggunakan informasi dalam pemecahan masalah serta pemikiran kritis.

Berdasarkan pada definisi di atas dapat dipahami bahwa literasi informasi berawwal dari Amerika Serikat yang dikemukakan awal oleh Paul Zurkowski sebagai bagian dari starategi perang pada tahun 1970-an. Yang selanjutnya melahirkan definisi-definisi baru dalam banyak bentuk dan ragammnya.

Adapun menurut Basuki (2018) literasi informasi merupakan kemampuan seseorang dalam membangun interaksi secara tepat, sehingga mendapatkan informasi sesuai dengan keinginan dan kebutuhan. Dimana informasi yang didapatkan dapat dijadikan sebagai evaluasi dan untuk membantu pembelajaran. 

Seperti juga ditambahkan oleh Tri Septiyantono (2014) yang mana juga dapat digunakan untuk mengetahui kapan dan mengapa informasi tersebut dibutuhkan dan digunakan.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa literasi informasi Adalah interaksi seseorang secara tepat dengan pihak lain atau kelompok lain sesuai keinginan dan kebutuhannya.

 

B.    TUJUAN LITERASI INFORMASI

Tujuan literasi informasi menanamkan kebiasaan berlajar sepanjang hayat dalam wujud mengidentifikasi kebutuhan informasi serta secara efisien menelusur dan menggunakan sumber informasi elektronik, cetak, lisan asli, serta sumber informasi lainnya guna memenuhi kebutuhan informasi untuk memperkuat kepentingan sosio-ekonomi pribadi, komunitas dan nasional (dalam Basuki, 2025: 7.50).

Sementara itu, Suyono (dalam Gogahu & Prasetyo) menekankan tujuan literasi informasi Adalah untuk meningkatkan pemahaman dan penguasaan individu terhadap keterampilan berpikir kritis, serta menggunakan informasi secara efektif.

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa tujuan utama literasi informasi adalah untuk mengembangkan pembelajar seumur hidup (lifelong learners) yang mandiri, kritis, dan mampu mengendalikan pembelajaran mereka sendiri dengan menguasai konten dan memperluas investigasi mereka.

 

DAFTAR PUSTAKA

 Abdul Rahman Saleh, Janti G. Sujana, (2009). “Pengantar Kepustakaan”. Jakarta: Sagung

Basuki, Sulistyo.1991. “Pengantar Ilmu Perpustakaan”. Jakarta: PT Gramedia. 

Sulistyo, Basuki. 2025. “Pengantar ilmu perpustakaan”.  Tangerang Selatan. Univ. Terbuka

Septiyantono, Tri. 2014. “Buku Saku Literasi Informasi”. Tanggerang: Reka Cipta.

Gogahu, D. G. S., & Prasetyo, T. (2020). Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis E-Bookstory untuk Meningkatkan Literasi Membaca Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Basicedu4(4), 1004–1015.

Rufaidah,VW.,1988. “Peranan Bibliografi Nasional Indonesia (BNI) dalam Pengawasan Bibliografi di Era Teknologi Informasi”. Jurnal Pustakawan Indonesia Vol. No.7.

Sulistyo-Basuki. 2018. “Dari Bibliometrika Hingga Informetrika”. Jurnal Media. Pustakawan: Media Komunikasi Antar Pustakawan. Volume 23

Tidak ada komentar:

Posting Komentar