Teknologi telah bergeser dan melahirkan new media (media baru), yang sebenarnya merujuk pada sebuah perubahan dalam proses produksi media, distribusi dan penggunaannya. David Holmes (dalam Nasrulla, 2015) menyatakan bahwa dalam media lama pengguna atau khalayak media merupakan khalayak yang pasif dan cenderung tidak mengetahui satu sama lain, sedangkan pada media baru pengguna bisa saling berinteraksi, baik di antara pengguna itu sendiri maupun dengan produser konten media.
Pergeseran tersebut berakibat berubahnya
cara manusia dalam berkomunikasi. Tamburaka (2013, h. 72) mengatakan bahwa
khalayak media massa sebelumnya dikendalikan oleh informasi dari lembaga media
massa, namun ketika perubahan teknologi terjadi kearah digitalisasi, pola
distribusi konten media berubah menjadi berpindah ke posisi khalayak. Sehingga
dominasi media sebagai penyedia konten sudah tidak lagi menjadi satusatunya
sumber informasi, bahkan sebaliknya khalayak juga dapat meciptakan konten media
itu sendiri.
Sementara itu, Rogers 1986 (dalam Prajarto, Nunung. 2024:5.34-35) memaparkan
bahwa terdapat tiga perbedaan dalam komunikasi manusia yang disebabkan oleh
keberadaan media baru. Tiga perbedaan
yang dimaksud, adalah sebagai berikut;
1. Interactivity,
mengandung dua pengertian, pertama
adanya teknologi yang mampu memberi respon terhadap penggunanya (interaktif
antar manusia dengan mesin) kedua,
interaktif antar pengguna dengan pengguna lainnya.
Dengan demikian,
dapat dipahami bahwa interactivity
adalah interaksi antar manusia dengan mesin dan interaksi antar pengguna dengan
pengguna lainnya. Hal ini merujuk pada kemampuan teknologi atau sistem untuk
memberikan umpan balik (respon)
langsung terhadap masukan (input)
dari pengguna. System komunikasi interaktif, individu dituntut lebih aktif dan
tidak hanya sekedar pasif atau reaktif.
2. De-Massified,
dengan kontrol terhadap system komunikasi terletak pada pengguna dan bukan pada
prosedur media tersebut. Berbeda dengan old
media dimana kita hanya bisa menikmati apa yang disajikan oleh prosedur
media tersebut.
3.
Asynchronous, yakni new media mempunyai kemampuan untuk
menyesuaikan waktu dengan pengguna. Berbeda dengan old media dimana kita yang harus menyesuaikan waktu dengan mereka.
1. Interaktivitas
bersifat mitos. Seperti dikemukakan Lev
Manovich, dalam (Nasrullah,
2016:27) berpendapat bahwa interaktivitas dalam
media baru seringkali adalah sebuah mitos karena pilihan interaksi yang
tersedia sebenarnya sudah diprogram sebelumnya oleh pencipta konten (misalnya,
pilihan menu navigasi di situs web). Pengguna hanya dapat berinteraksi dalam
batasan yang telah ditentukan, sehingga tidak sepenuhnya bebas atau aktif dalam
menciptakan konten yang unik. Terdapat dua tipologi untuk mendekati kata
interaksi dalam sudut pandang media baru, yaitu tipe terbuka dan tipe tertutup.
Dalam tipe terbuka, pengguna memiliki
kebebasan menentukan bagaimana jaringan ini akan dibentuk dan bagaimana
interaksi itu terjadi. Sementara dalam tipe
tertutup, khalayak disajikan pilihan-pilihan layaknya jalan yang setiap
belokan akan membawa pada arah dan tujuan yang berbeda. Kondisi ini menempatkan
khalayak ketika mengakses media baru untuk memilih secara bebas pilihan-pilihan
yang diberikan sesuai dengan apa yang diinginkan.
2. Penyebaran Hoaks dan Disinformasi. Sifat
interaktif memungkinkan informasi menyebar dengan sangat cepat, termasuk
informasi yang tidak akurat, hoaks, dan disinformasi.
3. Risiko Keamanan Data dan Privasi. Interaksi online yang intensif meningkatkan risiko
kejahatan dunia maya, seperti pembobolan data dan peretasan akun pribadi.
4. Penurunan Akurasi/Kualitas Informasi. Setiap orang dapat menjadi pembuat pesan (konten) dan
berinteraksi secara langsung, potensi terjadinya plagiarisme atau penurunan
kualitas dan akurasi informasi menjadi lebih tinggi.
5. Perubahan Perilaku dan Hubungan Sosial:
Media baru membawa perubahan sosial dalam gaya hidup dan cara berkomunikasi,
yang berpotensi mengurangi hubungan sosial secara langsung dengan orang
lain.
6. Literasi Media. Tingkat interaktivitas
yang tinggi menuntut adanya literasi media yang baik dari pengguna untuk dapat
menyaring informasi, berpartisipasi secara bertanggung jawab, dan memahami
batasan-batasan dalam interaksi online.
7.
Ketergantungan
dan Kecanduan. Kemudahan akses dan sifat
interaktif media digital dapat menyebabkan ketergantungan atau kecanduan yang
tinggi pada penggunanya (menurut Zakiah, 2007). Hal ini dapat mengganggu
keseimbangan kehidupan sosial dan kesehatan mental pengguna.
KELEMAHAN/ TANTANGAN SIFAT MEDIA BARU YANG SAYA ALAMI
1. Menciptakan ketergantungan pada teknologi
media. Dalam saya beraktivitas nyaris tidak lepas dari HP, karena mau tidur
pun sambil main HP, bahkan bangun pagi lebih dahulu mencari informasi lewat HP
daripada mengurus anak.
2. Menghabiskan waktu dengan bermain media. Waktu
lebih banyak tersita untuk bermain media
daripada mengerjakan tugas sebagai ibu rumah tangga sekaligus staff
pemerintahan.
3. Memerlukan biaya tambahan untuk data
internet. Pengeluaran bulanan semakin bertambah karena harus beli data
internet.
4. Ruang privasi menjadi terbuka. Ruang
privasi seperti kondisi rumaha tangga, keuangan dll menjadi rentan diketahui
public lewat media
5.
Hoax.
Berita hoax yang sering tampil akan dianggap benar bila terus dikonsumsi
6. Konten kekerasan dan porno aksi/pornografi
yang tiba-tiba lewat di beranda. Sangat beresiko karena HP bisa saja
dipegang oleh anak-anak yang belum layak mengkonsumsi konten tidak bermoral.
DAFTAR PUSTAKA
Prajarto, Nunung. 2024. Pengantar Ilmu Komunikasi. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka.
Nasrullah. 2015 “Media
sosial: perapektif komunikasi, budaya dan sosioteknologi” Bandung: Simbiosa
Rekatama Media.
Tamburaka, Apriadi. 2013 “Literasi Media : Cerdas Bermedia Khalayak Media. Jakarta: PT
Rajagrafindo.
Zakiah.
2007 "Kesehatan Mental"
Jakarta: Gunung Agung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar